Tips Peneropongan Embrio Hidup Atau Mati Pada Telur Dalam Proses Penetasan



Tips peneropongan embrio telur hidup atau mati - Peneropongan telur berguna untuk seleksi telur yang dibuahi dan memisahkan telur yang tidak dibuahi. Kalau tidak dilakukan seleksi peneropongan, maka telur yang tidak dibuahi akan membusuk dan mengganggu telur-telur fertile lainnya.

Seleksi dengan peneropongan telur sebaiknya dilakukan sebanyak tiga kali dalam satu proses penetasan. Seleksi pertama dilakukan setelah umur penetasan tiga hari, tetapi seleksi pada umur penetasa 3 hari akan terasa sulit bagi yang belum berpengalaman.

Selanjutnya peneropongan dilakukan pada umur penetasan sudah tujuh hari atau, pada masa ini peneropongan akan mudah dilakukan karena pertumbuhan embrio telur sudah cukup besar. Selanjutnya peneropongan terakhir pada saat umur telur eraman berumur dua minggu.

Dari proses seleksi peneropongan telur tersebut berikut saya jelaskan lagi tujuan dan ciri-ciri telur dengan embrio hidup atau mati pada masa penetasan telur tersebut:


 Cara meneropong embrio telur ayam pada masa pengeraman

Tujuan peneropongan telur pada hari ketiga masa penetasan ini bertujuan untuk seleksi telur yang dibuahi atau fertile. Hasil seleksi, telur yang tidak dibuahi dikeluarkan dari mesin penetas untuk selanjutnya dijual atau bisa dikonsumsi.

Supaya telur bisa dijual maka cangkang telur tetas jangan diberi tanda dulu pada saat telur pertama kali dimasukkan ke mesin petetas. Telur tetas biasanya diberi tanda atas A dan bawah B supaya mudah melakukan pembalikan yang dilakukan satu persatu dengan tangan.

Untuk mesin tetas yang pembalikan telur secara otomatis memutar rak tidak perlu diberi tanda. Ciri-ciri telur yang fertile dengan yang tidak pada peneropongan pertama agak sulit dibedakan, tetapi bagi yang biasa dan pengalaman tidak jadi masalah.

Perbedaan Telur Fertil dan tidak Fertil Sangat Sedikit Bedanya


 Cara meneropong embrio hidup atau mati pada telur ayam

Gunakanlah Alat Peneropong Telur yang sinarnya terang, dan sebaiknya peneropongan dilakukan pada malam hari di ruangan yang gelap. Bagi yang sudah berpengalaman alat teropong telur cukup dengan menggunakan genggaman tangan yang dibentuk seperti teropong, dengan cahaya dari satu lampu pijar 5 watt saja. Peneropongan dilakukan dengan sudut tumpul telur menghadap ke atas, sedangkan sudut lancipnya dibawah, putar-putar telur sehingga akan terlihat gumpalan warna hitam ditengah-tengah telur yang bertanda telur fertile, sedangkan telur yang tidak fertile terlihat jernih tanpa ada gumpalan hitam.

Meskipun terlihat gumpalan hitam pada telur yang tidak fertile tetapi gumpalan hitam yang tampak blur, atau samar-samar yang merupakan bayangan dari kuning telur.

Peneropongan Hari Ketujuh Masa Inkubasi
Telur yang mati ini masih bisa dikonsumsi karena embrio pada telur mati belum membentuk saluran syaraf darah dan tidak berbau busuk. Tetapi untuk telur fertile yang masih hidup sudah akan terlihat cabang-cabang saluran syaraf darah dan denyut jantung pada embrio telur.

Telur yang sudah mati ini tidak boleh dibiarkan lama-lama di dalam mesin penetas karena akan mengganggu telur lainnya sehingga ikut mati dan mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Pada hari ketujuh ini peneropongan sudah cukup mudah dilakukan, karena perkembangan embrio janin telur sudah cukup besar. Detak jantung sudah terlihat jelas, dan saluran-saluran syaraf darah sudah sangat jelas terlihat.

Bagi yang belum pengalaman peneropongan hari ketujuh ini tidak akan mengalami kesulitan, apalagi sudah menggunakan Alat Peneropong Telur yang lumayan bagus.


Baca juga





Peneropongan Hari Ke-Empat Belas (Dua Minggu) Masa Inkubasi


 Cara medah melakukan peneropongan embrio telur ayam

Peneropongan telur pada minggu kedua ini tujuannya sama seperti pada peneropongan minggu pertama, yaitu mencari telur yang embrionya sudah mati. Telur hasil peneropongan terakhir ini sudah tidak dapat dijual apalagi dikonsumsi karena telur sudah memiliki embrio dan membusuk. Singkirkan telur dari dalam mesin penetas karena akan menyebabkan bau yang tidak sedap di dalam mesin penetas.

Pada saat penetasan telur yang tersisah dari seleksi peneropongan juga tidak semuanya akan menetas meskipun sudah semuanya fertile. Masih ada embrio yang mati saat masa penetasan, atau bahkan gagal saat menetas sehingga mati, padahal telur sudah pecah oleh patukan paruhnya.

Kematian telur selama proses penetasan ini akibat beberapa hal yaitu umur telur saat pengumpulan terlalu lama, perawatan kita selama masa penetasan kurang baik, juga akibat sering mati listrik yang tidak segera diganti dengan sumber pemanas darurat seperti lampu templok atau ada juga yang menggunakan lilin

Demikian artikel dari saya tentang tips melakukan peneropongan embrio hidup atau mati pada telur. Semoga artikel di atas dapat menambah wawasan agan semuanya. Terimakasih sudah membaca dan salam satu hobi. Kunjungi juga http://bangkokterbaik.blogspot.com untuk membaca artikel menarik lainnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel